Sunday, December 18, 2011

paderi terpaksa buka rahsia


Ada seorang pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidika agama Islam bahkan dia mampu mendalaminya. Selain belajar, dia juga seorang jurudakwah Islam. Ketika berada di Amerika, dia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah s.w.t. memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar dia turut masuk ke dalam gereja. Mula mula dia keberatan, namun kerana desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka.

Ketika paderi masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu, si paderi agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, ‘Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini.’ Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Paderi tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya paderi itu berkata, ‘Aku minta dia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.’ Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang paderi, ‘Bagaimana anda tahu bahawa saya seorang Muslim?’Paderi itu menjawab, ‘Dari tanda yang terdapat di wajahmu.

Kemudian dia beranjak hendak keluar. Namun, paderi ingin memanfaatkan kehadiran pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan agamanya. Pemuda Muslim itupun menerima tentangan debat tersebut.




Paderi berkata, ‘Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.

Si pemuda tersenyum dan berkata, ‘Silakan!’

Sang paderi pun mulai bertanya,:

‘Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya.’

‘Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!’

‘Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diazab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?’

‘Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?’

Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca ‘Bismillah…’ dia berkata,:

Satu yang tiada duanya ialah Allah s.w.t..

Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. berfirman, ‘Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).’ (Al-Isra’: 12).

Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.

Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.

Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah s.w.t. menciptakan makhluk.

Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t. berfirman, ‘Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.’ (Al-Mulk: 3).

Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah s.w.t. berfirman, ‘Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.’ (Al-Haqah: 17).

Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.

Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s.w.t. berfirman, ‘Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.’ (Al-An’am: 160).

Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .

Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, ‘Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.’ (Al-Baqarah: 60).

Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah s.w.t. berfirman, ‘Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.’ (At-Takwir: 18)

Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.’ Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ‘Tak ada cercaan terhadap kamu semua.’ Dan ayah mereka Ya’qub berkata, ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Yusuf:98)

Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai. Allah s.w.t. berfirman, ‘Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keldai.’ (Luqman: 19).

Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.

Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah s.w.t. berfirman, ‘Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.’ (Al-Anbiya’:69).

Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua).

Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya Wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t. ‘Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.’ (Yusuf: 28).

Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh paderi.

Pemuda ini berkata,:

‘Apakah kunci surga itu?’

Mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak.

Mereka berkata, ‘Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!’
Paderi tersebut berkata, ‘Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah.’

Mereka menjawab, ‘Kami akan jamin keselamatan anda.

Paderi pun berkata,:

‘Jawapannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah , Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.

Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa .

Wallahu’alam….







*mesti ramai yang pernah baca kisah ini namun x da salahnya kan kalau kita membaca lagi sekali lagi . Bagi saya ini adalah salah satu cerita yang memberi motivasi kepada diri  dan berbangga kerana menjadi seorang umat islam. jadi apa yang harus kita lakukan ?
tepuk dada tanya iman !

Sunday, November 27, 2011

selamat malam dunia

selamat malam dunia. selamat tidur semua dan selamat bangun esok hari.
apabila bangun seringkali terlintas Alhamdulillah Allah masih memberi peluang kepada aku untuk hidup adakah esok aku masih berpeluang untuk hidup?? Apakah yang akan aku lakukan jikalau pada keesokan hari aku bangun dan melihat  jasad diriku sendiri kaku?? mampukah aku menghadapi kematian ini ? sudahlah iman di dada tidak sebegitu kental apatah lagi amal yg pernah dibuat, untuk mengharapkan syafaat belum tentu lagi aku merupakan antara umat yang terbaik

dont ask what Allah had given to you but ask yourself what that had you do for Allah??
Ya Allah di kesempatan yang mash ada ini ku mohon  padamu Ya Allah berikanlah kepada kami ketakwaan  sekental nabi  Muhammad berikanlah kepada kami kekuatan untuk meneruskan daie seteguh nabi Luth yang setia menyamapai ajaran Mu berikanlah kami ketabahan sesuci Salman Al farisi yang mengobankan cintanya berikan lah kepada kami kekuatan sekaut saidina Umar Alkhatab berikanlah kepada kami kebijaksanaan sebijak saidina Abu Bakar Assidik berikanlah kami kelembutan seperti air bak saidina Uthman berikanlah kepada kami siafat seperti Saidina Ali yang begitu mengagungkan ilmu

HE says YES and GIVES what you want.HE says NO and GIVES
something
better HE says WAIT and GIVES you the best in HIS own
time..

Saturday, November 26, 2011

hijrah satu peralihan


assalamualaikum~
setelah lma tak mencoret terasa ada rindu yang menyelubungi
Alhamdulillah juga kita masih diberikan hela nafas yang cukup berharga ini oleh Allah s.w.t 
teringat kata2 seorang ustaz 
"walau dimana kita siapa kita dengan apa kita perlukan  bagaimana x kira la apa 'wh-questions apa2 pon"
semua itu jawapannya ada pada kita~terpulang pada kita untuk menjawabnya dan kita seharusnya  sebagai umat islam  mempunyai mind setting yang menetapkan CINTAKU SAYANGKU KASIHKU 
SEGALA-GALANYA hanya untuk Allah





Di awal tahun baru hijrah,
Ku sujud menghambakan diri pada-Mu,
Hati terus merintih mengenangkan dosa lalu,
Kotornya diri dengan maksiat dan noda,

Lemahnya jiwa berdepan dengan dunia,
Lalainya diri dari mengingati-Nya,
Astaghfirullahal 'adzim....
Banyaknya kekurangan diri,
Ampuni hamba-Mu ini Ya Allah.

Aku sedar,
Jiwa yang tandus taqwa,
Terdorong lakukan apa sahaja,
Sanggup menentang arus kehendak Ilahi,
Yang difikir hanyalah untuk kepuasan diri,
Maka, pabila dosa telah larut,
Gelaplah hati, kotorlah jiwa, murunglah diri,
Itulah fitrah sang pendosa,
Yang leka dari pencipta-Nya.

Namun, bila iman hadir di jiwa,
Mata hati mula bekerja,
Baru kusedar, betapa diri jauh dari-Mu Tuhan,
Asyik sibuk untuk dunia,
Hinggakan solat sering kutunda,
Al-Quran pun malas dibaca,
Lidahku kotor dengan kata-kata dusta,
Mata ini tak kujaga dari perkara dosa,
Telinga ini mendengar apa yang tak sepatutnya,
Kaki ini sering melangkah ke tempat lagha.

Ya Allah,
Jauh sekali diriku dengan peribadi kekasih-Mu,
Kau teladan terbaik bagi seluruh umat,
Ingin sekali aku mencontohi peribadimu, Rasulullah
Meskipun dirimu suci tanpa dosa,
Solat malam tidak pernah kau lupa,
Munajatmu di tengah malam jadi rutin harian,
Pengharapanmu pada Tuhan terlalu tinggi,
Sedang aku???
Seorang hamba yang penuh dosa....
Solat fardhu pun kurang dijaga,
Apatah lagi solat malam sepertimu, Ya Nabiyullah.

Sungguh,
Aku ingin berubah,
Menjadi seorang hamba-Mu yang taat,
Aku takut akan azab kubur,
Aku gerun dengan dahsyatnya neraka-Mu,
Dan kurindukan nikmat syurga.

Jadi,
Kupohon padaMu wahai Tuhan,
Campakkan ke dalam hati ini niat yang tulus,
Ingin sekali aku berdiri di hadapan-Mu dengan jiwa yang tunduk,
Ingin sekali aku rukuk pada-Mu dengan hati yang pasrah,
Dan ingin sekali ku sujud ke hadhrat-Mu dengan punuh kehambaan,

Ya Rahim,
Sucikan hatiku dari sifat munafik,
Sucikan amalku daripada riyak,
Sucikan lidahku daripada dusta dan mataku dari khianat,
Jadikanlah diriku seorang anak yang solehah,
Yang bisa mendamaikan hati Ummi dan Abiku,
Jadikanlah diriku seorang mukminat solehah,
Kerna mukminat solehah itu lebih cantik dari bidadari syurga.

Dan...
Kurniakan aku kesabaran untuk menunaikan ketaatan pada-Mu,
Anugerahkan aku kesabaran dalam meninggalkan maksiat pada-Mu,
Jadikanlah hati ini hati yang sentiasa mengingati-Mu,
Agar dapat ku miliki sekeping hati yang tenang,
Jauh dari hasad dengki dan kepalsuan dunia,
Hadirkanlah cintaku kepada-Mu mengatasi segalanya,
Agar Kau temukan hati yang terbaik buat diriku.

Moga dapat kukecapi, kebahagiaan yang hakiki,
Suatu hari nanti...
Amin....


Saturday, November 5, 2011

** Mama.. Aku Mulai Melupai Wajahmu.. **





Empat tahun yang lalu, satu kemalangan memisahkan aku dengan isteri yang amat ku
kasihi.Seringkali muncul dalam fikiranku; apa yang isteriku rasai sekarang?

Dia pasti terlalu sedih kerana meninggalkan seorang suami yang sebenarnya tak mampu menjaga rumah
dan memelihara seorang anak lelaki kerana itu jugalah perkara yang sedang membedal emosi ku masa kini.
Aku rasa aku gagal memenuhi keperluan fizikal mahu pun keperluan emosi anak lelaki ku, dan yang ironiknya,
aku gagal bertindak sebagai ayah dam mama kepada anak ku.

Suatu hari aku menerima panggilan kecemasan untuk datang ke tempat kerja. Ia masih terlalu awal.
Lalu aku meninggalkan anak ku di rumah sementara dia masih tidur. Aku cuma sempat memasak telur buat anak ku.
Berharap apabila dia bangun nanti dia boleh menanak nasi sebab fikir ku beras masih ada. Selepas memaklumkan anak,
aku terus bergegas ke pejabat.

Sebagai seorang yang mempunyai dua kewajipan, aku sering merasa kepenatan di tempat kerja,
demikian juga apabila aku berada di rumah. Selepas sehari suntuk, aku balik ke rumah,
lemas dan kehilangan tenaga seluruhnya. Selepas memeluk dan mencium anak ku seadanya,
aku terus ke kamar tidur tanpa mengambil apa-apa sebagai pengalas perut untuk makan malam.

Mengharapkan tidur nenyak yang diimpikan, aku terus melompat ke atas katil.
Sejurus kemudian segala yang aku rasakan dan dengar ialah kemeruk mangkuk porselin
yang pecah dan cecair yang masih hangat. Sepantas kilat aku membuka selimut dan di sanalah punca segala masalah tersebut …
mangkuk yang sudah pecah dengan mee segera yang mengotorkan cadar dan selimut!

Adakah aku gila! Aku hilang sabar lalu mencapai penyangkut baju, dan tanpa berfikir panjang,
aku terus menghukum anak lelaki ku yang masih bermain dengan patung-patung permainannya.
Semestinya dia menangis tetapi dia tidak memohon balas kasihan,
kecuali hanya kata-kata penjelasan yang cukup pendek, ringkas, dan sayu.

Masih dengan esekan tangis anak ku bersuara, "Ayah, saya lapar dan tidak ada lagi beras untuk dimasak.
Ayah belum balik lagi, saya mahu masak mee segera. Tetapi saya masih ingat pesan ayah agar
jangan menyentuh atau menghidupkan dapur gas jika tidak ada orang dewasa,
lalu saya gunakan pemanas air mandian dari bilik mandi untuk memasak mee segera itu.
Satu untuk ayah dan satu untuk saya. Saya takut mee itu menjadi sejuk lalu meletakkannya
di bawah selimut supaya ia kekal hangat. Tapi saya terlupa untuk mengingatkan ayah sebab saya
asyik bermain dengan alat permainan saya … maafkan saya ayah…"

Untuk seketika, air mata mula membasahi pipi ini tapi aku tidak mahu anak ku melihat ayahnya
menangis lalu aku terus beredar ke kamar mandi dan menangis sepuasnya sementara curahan
air paip meninggalamkan tangisan ku itu. Selepas itu aku mendapatkan anak ku,
memeluknya seerat mungkin dan merawat luka kesan penyangkut baju.

Kekotoran yang ada di atas katil aku bersihkan. Menjelang tangah malam selepas semuanya beres,
aku melewati kamar tidur anak ku. Dia masih belum tidur lagi. Aku melihat dia menangis.
Menangis bukan kerana kesakitan kesan dari hukuman ku sebentar tadi tetapi aku melihat dia menatap foto mamanya yang dikasihi.

Setahun kemudian selepas kejadian tersebut, saya berusaha sedaya yang boleh untuk memberi kasih
dan sayang dari ayah dan juga mama, dan memenuhi keperluan-keperluan anakku.

Dia kini sudah berumur tujuh tahun, dan tidak lama lagi dia akan tamat persekolahannya di peringkat tadika.
Mujur dia dapat menyesuaikan diri tanpa mama dan dia bertumbuh lebih gembira berbanding hari-hari yang sudah.

Tidak berapa lama dahulu, sekali lagi aku mendenda anak lelaki ku, kali ini lebih teruk lagi.
Guru tadikanya menghubungi aku mengenai ketidakhadirannya ke sekolah.
Hari itu aku balik lebih awal dari kerja, mengharapkan penjelasan dari anak ku.
Aku mencarinya di sekitar rumah tetapi tidak ku jumpai. Akhirnya aku menemuinya di belakang kedai alat tulis,
gembira dan sedang bermain permainan komputer.

Dengan kemarahan yang membara, aku membawa anak ku pulang. Untuk tujuan mengajar,
aku merotan anak ku. Dia tidak pun melawan kecuali dengan satu kalimat yang memilukan, "Maafkan saya ayah".
Selepas mendengar bukti-bukti, saya menyedari bahawa sekolahnya menganjurkan
`Talent Show' dan semua ibu pelajar dijemput. Itulah sebabnya pada hari itu anak ku ponteng
sekolah kerana dia tidak ada lagi mama untuk bersama-sama ke majlis tersebut.

Beberapa hari selepas aku merotan, anak ku balik dan memberitahu ku bahawa di sudah belajar menulis dan membaca.
Sejak hari itu dia tidak lekang dari kamar tidurnya dengan alasan mahu belajar dan berlatih menulis.
Kalaulah isteri ku masih ada ketika ini, saya pasti dia amat bangga dengan anak kami kerana dia membanggakan aku juga!

Masa berlalu begitu cepat sekali, tahun berganti tahun. Untuk kesekian kalinya anak ku buat hal lagi.
Semantara aku berkemas-kemas untuk mengakhiri kerja-kerjaku di pejabat pada hari itu,
panggilan dari pejabat pos mencela kesibukan ku. Pegawai pos agak kasar pada ketika itu,
mungkin dia agak sibuk. Dia menyatakan anakku cuba mengirim beberapa pucuk surat tanpa alamat.

Aku sudah berjanji untuk tidak menghukum anakku lagi. Namun aku benar-benar hilang sabar.
Ada saja masalah yang anakku timbulkan. Kalau bukan di rumah, di sekolah, atau di pejabat pos.
Aku hilang sabar.

Dalam benak aku berfikir bahawa anak ini tidak boleh dikawal lagi. Dia perlukan pengajaran,
dan itulah yang aku lakukan. Sekali lagi anakku berkata dengan sayu, "maafkan saya ayah"
dan tidak ada alasan lain yang dia cuba jelaskan. Saya begitu marah dan mendorong dia ke tepi
lalu aku terus ke pejabat pos mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut dan kembali ke rumah dengan segera.

Dalam kemarahan, aku inginkan alasan dari mulut anakku sendiri. Sesuatu yang tidak pernah aku fikirkan,
"surat-surat itu khas untuk mama", dia bersuara pilu masih dalam tangisan. Mendengar itu aku tak dapat menahan emosi.
Di mata ini mula muncul kaca-kaca jernih. Aku cuba mengawal perasaan dan terus menyoalnya,
"tapi kenapa kamu mengirim terlalu banyak surat dalam satu masa?"

Kemudia anakku menjawab, "Sebenarnya, saya sudah menulis surat-surat untuk mama ini sudah sekian lama,
tetapi setiap kali saya tiba di peti pos, petinya sangat tinggi bagi saya, dan saya tak dapat
memasukan surat-surat itu ke dalam peti surat, tetapi baru-baru ini saya sekali lagi ke peti pos,
dan alangkah gembiranya saya kerana saya sudah boleh mencapai peti pos tersebut lalu
saya masukkan semua surat-surat yang telah saya tulis itu sekali gus….."

Mendengar ini, saya hilang, lenyap, dan entah apa-apa lagi. Hilang akal dan tidak tahu apa perlu dilakukan, apa nak kata…
Kemudian aku memberitahu anakku, "nak, mama sudah tidak ada lagi tetapi percayalah satu hari nanti dia akan kita temui lagi".
Selepas mendengar penjelasan yang pendek itu, anakku tenang tetapi gembira, dan tidak lama kemudia ia tertidur.

Saya membawa surat-surat itu keluar dan mula membacanya satu per satu, dan salah satu surat itu benar-benar menyentuh kalbu ku…

"Mama yang amat dikasihi,
Saya amat merindui mama! Hari ini sekolah saya menganjurkan `Talent Show',
dan pihak sekolah menjemput semua ibu-ibu untuk menyaksikan pertunjukan itu
tetapi malangnya mama tiada, sebab itu saya tidak menyertai sebarang acara.
Saya tidak maklumkan semua ini kepada ayah kerana saya risau ayah akan
merindui mu dan menangis sekali lagi. Untuk mehilangkan kesedihan, saya pergi
bermain permainan komputer di salah sebuah kedai komputer. Hari itu ayah mencari saya di mana-mana.
Ayah agak marah. Dia menengking dan memukul saya, tetapi saya tidak maklumkan kepadanya alasan sebenar.
Mama, setiap hari saya melihat ayah merindui mu dan setiap kali ayah teringatkan mu ,
dia begitu sedih namun dia berselindung dan menangis di biliknya. Saya fikir kami berdua amat merindui mu.
Tetapi mama, saya sudah mula melupai wajah mu. Mama, bolehkah mama muncul dalam mimpi saya agar
saya dapat mengingati wajah mama? Saya pernah dengar apabila kita mendekap gambar seseorang yang dirindui,
dia akan muncul dalam mimpi, tetapi kenapa tidak mama?"

Selepas membaca surat itu, aku tak dapat menahan tangis, sebab aku sedar aku tidak akan
dan tidak pernah akan dapat memperbaiki jurang yang sepatutnya isteri aku dapat perbaiki…










************
mungkin ada diantara kita yang bakal menangis membaca artikel ini. ketahuilah kasih sayang kedua ibu bapa kita begitu bernilai.renung2kan.

sumber:fb

sudikah menjadi ratuku yg kedua??



 “Awak sudi jadi isteri kedua saya?” tanya Fikri tegas dan yakin.



Tiba-tiba mata Fatimah merah, air mata mula bergelinang di kelopak bawah.

“Tak sangka awak sudah beristeri! Awak jahat! Sanggup mempermainkan hati saya. Awak 



ingat saya tiada maruah? Hah!” pekik Fatimah dengan suara tersekat-sekat.

Mata Fikri liar melihat kiri kanan, mungkin ada sesiapa yang memandang perlakuan dia dan 



Fatimah. Bukan takutkan pandangan manusia, tetapi lagak Fatimah langsung tidak selari


 dengan penampilannya.

“Saya ingat kita lama berkawan, awak masih bujang. Tapi rupa-rupanya…” Fatimah mula sebak.

“Tak. Maksud saya – ”

“Sudah! Jangan bermulut manis lagi. Cukup!” potong Fatimah dengan kasar.

“Awak nampak macam alim, tapi sanggup menipu saya. Dan awak sanggup melamar saya 



menjadi isteri kedua awak. Awak ingat saya ni siapa?” suara Fatimah semakin tinggi, 


setinggi egonya.

Fikri diam seribu bahasa. Dia sudah tahu `Fatimah’ di sebalik Fatimah yang dia kenal 



selama ini.

Fatimah bergegas dari situ sambil mengelap air mata dengan tudung labuhnya berwarna 



kuning. Dalam hatinya, Fikri seolah-olah menghinanya apabila memujuknya untuk 


bermadu.

Fikri muram. Namun masih terselit kekecewaan di sudut hatinya. Kekasih hatinya belum 



bersedia rupa-rupanya.

“Ada hikmah,” bisik hati kecil Fikri, sekecil pandangannya terhadap Fatimah.

Hujung minggu berjalan seperti biasa. Program-program dakwah menyibukkan jadual Fikri



 sebagai seorang muslim yang beramal dengan apa yang diyakininya. Duitnya banyak 


dihabiskan untuk memenuhi tuntutan dakwah yang seringkali memerlukan pengorbanan 


yang tidak berbelah bahagi. Namun, hatinya tegas dan yakin bahawa inilah jalannya. Jalan 


yang membawa dia menemui Tuhannya dengan hati yang tenang serta bahagia di hari kelak.

Keyakinan serta keaktifan Fikri berdakwah sedikit sebanyak memenangi hati gadis-gadis 



dalam jemaahnya. Malah, Fikri dilihat sebagai calon suami yang bakal memandu 


keluarganya nanti ke arah memperjuangkan agama yang dianutinya sejak sekian lama. 


Sudah terlalu ramai muslimah yang menaruh hati padanya, namun, Fatimah terlebih dahulu


 rapat dan memenangi hati Fikri. Bagi Fatimah, Fikri seperti pelengkap kepada dirinya. 


Namun, hanya sehingga saat Fikri melamarnya menjadi isteri kedua.

Fikri masih lagi aktif dalam dakwah meskipun hubungannya dengan Fatimah nampak 



seperti tiada jalan penyelesaian. Dia mahu berbaik dengan Fatimah, namun sikap Fatimah 


yang keras dan kurang memahami erti dakwah membantutkan usaha Fikri tersebut. Bagi 


Fatimah, Fikri tak ubah seperti lelaki lain.

Gerak kerja dakwah Fikri berjalan seperti biasa. Siangnya ke hulu ke hilir memenuhi



 program serta amal jariah kepada masyarakat. Malamnya sibuk dengan mesyuarat dengan 


sahabat-sahabat seangkatannya. Fikri semakin percaya jalan dakwahnya, sama sekali dia 


tidak akan berganjak dari jalan ini hatta datang ancaman sebesar gunung sekalipun. Dia


terlalu matang, jauh sekali daripada pemikiran pendakwah lain yang

semudanya.

Namun, Allah s.w.t. Maha Mengetahui lagi Maha Pemurah. Sekali lagi Dia menghantar 



seorang perempuan bagi menguji Fikri, sama ada dia menjadi pemangkin atau perencat 


bagi dakwah Fikri.

Suatu petang dalam suatu program dakwah di sebuah madrasah, Fikri dikejutkan dengan 



luahan ikhlas dari sahabat lamanya, Nusaibah. Fikri sekali lagi gusar takut-takut Nusaibah 


tidak dapat menjadi sayap kiri perjuangannya selepas berumahtangga nanti. Isteri 


pertamanya sudah pasti membawa Fikri menemui Tuhannya, namun, Nusaibah yang 


kurang dikenalinya adakah sama seperti Fatimah atau tidak?

Fikri bercelaru, tetapi tidak bermakna lamaran Nusaibah ditolak. Dia meminta sedikit masa 



untuk memikirkan keputusan tersebut.

Setelah merisik pemikiran Nusaibah daripada beberapa sahabat terdekatnya, Fikri berjumpa



 dengan Nusaibah bertemankan sahabat baiknya. Dengan tegas dan yakin, sekali lagi Fikri 


mengulangi soalan yang pernah ditanya kepada Fatimah.

“Awak sudi jadi isteri kedua saya?” tanya Fikri tanpa segan silu.

“Sudi,” jawab Nusaibah ringkas.

“Er, betul ke ni?” tergagap Fikri menerima jawapan Nusaibah yang tenang dan yakin.

Nusaibah mengangguk kepalanya sedikit. Langsung tiada rasa takut mahupun kecewa



 apabila lamaran sebagai isteri kedua yang dilafazkan oleh Fikri.

“Kenapa saya?” tanya Fikri ingin tahu.

“Saya ingin membantu gerak kerja dakwah awak,” jawab Nusaibah yakin tetapi sedikit malu.

“Baiklah,” jawab Fikri tersenyum.

Akhirnya, Fikri dikurniakan sayap kiri yang sangat membantu dalam gerak kerja dakwahnya selama ini.

Setelah seminggu mendirikan rumahtangga bersama Nusaibah, Fikri terasa dakwahnya 



semakin laju. Jadualnya senang, pakaiannya dijaga, makannya disedia. Malah, Nusaibah 


sangat membantu gerak kerja Fikri semampu mungkin. Setiap kali turun ke lapangan untuk


 berdakwah, Fikri membawa Nusaibah untuk membantu kerja dakwah seadanya.

Kadang-kala letih menyinggah Nusaibah. Suaminya terlalu kerap keluar berdakwah, seperti 



mesin yang tiada hayat. Namun, inilah yang dia yakini sebelum berkahwin dengan Fikri. 


Membantu suami melancarkan gerak kerja dakwah. Nusaibah juga berjaga-jaga takut 


dirinya pula yang menjadi pembantut atau penghalang dakwah suaminya.

“Abang, saya nak tanya boleh?” sapa Nusaibah dalam kereta sewaktu dalam perjalanan 



sebuah program dakwah.

“Ye sayang?” jawab Fikri sambil memandu.

“Abang tak pernah pun bawa saya jumpa isteri pertama abang,” luah Nusaibah yang sangat



 teringin berjumpa dengan madunya.

“Dah sampai sana nanti, kita akan jumpa,” Fikri menoleh sedikit ke arah Nusaibah, sambil tersenyum.

“Yeke? Dia datang program tu rupanya,” jawab Nusaibah riang.

Hatinya berdebar ingin berjumpa madunya yang banyak membantu Fikri dalam gerak kerja 



dakwah. Di sudut kecil Nusaibah, dia merendah diri kerana usahanya membantu dakwah 


suaminya hanya sedikit berbanding dengan isteri pertama Fikri yang banyak membantu 


selama ini. Tidak hairanlah Fikri aktif dalam dakwah sebelum ini.

“Kita dah sampai,” Fikri membuka pintu keretanya sambil memegang beg berisi fail 



ditangannya.

Fikri berdiri, mengadap ke arah sebuah khemah di hadapan masjid, lalu menoleh ke arah 



Nusaibah yang berdiri di sebelah kiri kereta.

“Itu isteri pertama abang,” Fikri menuding jari ke arah khemah tersebut.

“Mana bang?” Nusaibah mengecilkan matanya, fokusnya mencari arah jari Fikri.

“Tak nampak pun,” Nusaibah meninggikan sedikit hadapan kakinya.

“Siapa nama isteri pertama abang?” Nusaibah sangat berdebar.

Fikri tersenyum lebar, memandang Nusaibah penuh tenang.

“Perjuangan,” jawab Fikri.

***

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan 



saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga 


kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan 


merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi


perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada)


berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya 


(azab seksa-Nya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang 


fasik (derhaka).”


[QS al-Taubah 9:24]




******
ingatlah wahai kaum hawa jadikanlah dirimu sebagai penolong kepada dakwahnya si suami bukan pembantut atau penghalang yakni yang paling utama buat mereka melaksanakan tugas di bumi Allah.
Wallahualam.


sumber: dari fb

13 alasan malu menutup aurat




Pernah nasihat atau tegur kawan-kawan anda yang tidak menutup aurat? Jom kita tengok apakah alasan yang selalu digunakan wanita yang enggan menutup aurat apabila ditegur kesalahan mereka itu. Dan apa jawapan yang mungkin sesuai untuk mereka.??~~~>


1. Semua yang tutup aurat, confirm masuk syurga ke?

-Yang pasti, kalau tak tutup aurat, confirm masuk NERAKA..Nauzubilla

2. Tudung labuh pun macam baik sangat. Buat dosa jugak. Mengumpat orang.

-Bila Iblis tak mahu ikut perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, dia menyalahkan perintah Allah itu. "Apahal pulak aku kena sujud, aku lebih baik dan mulia". Samalah seperti tudung. Tudung pula yang disalahkan, " pakai tudung tak mestinya baik..bla...bla...bla..."

 3. Macamlah kau bagus sangat nak tegur aku. Kau dulu lagi jahat nak mampos.

-Tidak tersabit larangan dari Nabi untuk seseorang yang bahkan baru masuk Islam untuk pergi berdakwah kepada kaumnya. Maksudnya, dakwah itu tuntutan. Selagi kau Islam, dakwah tu wajib walaupun kau sendiri tak berapa betul. Sekurang-kurang dia insaf dan bertaubat sekarang.

4. Walau kami pakai seksi tapi hati kami baik.

-Adakah kau mendakwa diri kau mempunyai hati yang suci, iman yang tinggi dan kononnya ia sudah cukup menjamin maruah diri kau tanpa perlu menutup aurat?

5. Pakai jarang ke ketat ke, itu hak kami. Kalau tak suka jangan tengok.

-Adakah kau berani menjamin bahawa semua lelaki ajnabi mempunyai hati suci dan iman yang tinggi untuk menahan godaan syaitan serta nafsu yang membuak-buak?

6. Kami rasa apa yang kami pakai tak seksi. Terpulang kepada individu yang memandang kami.

-Seksi atau tidak, kau tetap berdosa walaupun hanya menayang sehelai rambut kau.

7. Walau kami tak bertudung, kami tetap solat dan puasa.

-Apakah ibadat kau diterima? Kau yakin cuma dengan berpuasa sudah cukup untuk menjamin kau masuk syurga?





 8. Suka hati kamilah nak pakai macam ni. Kami tak susahkan hidup orang lain.

-Kau sebenarnya dah susahkan bapa, abang, adik, suami serta orang lain dengan menarik mereka ke neraka bersama kau disebabkan mereka tidak menegur dan gagal mendidik kau.

 9. Apa yang kami pakai, ini antara kami dengan ALLAH.

-Berani cakap di dunia, berani ke kau cakap macam tu depan Allah nanti? Lawan perintah Allah, Neraka tempatnya.

10. Kami pakai seksi macam ni, sebab ikut arahan photographer/pengarah filem untuk disesuaikan dalam scene. (ayat artis)

-Sanggup patuh arahan mereka daripada patuh suruhan Allah?

 11. Bukan kami tak mahu menutup aurat, cuma masih belum sampai seru.

-Mati tidak mengenal usia. Tak takut ke mati dalam usia muda? Tak sempat nak bertaubat nanti.

12. Takkan nak buat perubahan secara drastik? Slow-slow la..

-Boleh ke cakap kat Malaikat Izrail nanti, tunggu kejap! Lepak la dulu. Jangan ambil lagi nyawa aku.

13. Tutup aurat tu bagus tapi kami tidak mahu hipokrit kerana tidak ikhlas melakukannya.

-Kalau begitu kau sebenarnya memang hipokrit kerana tidak ikhlas beragama Islam.“Wahai wanita, setiap ciptaan tuhan yang berharga di dunia ini akan terlindung dan amat sukar untuk diperolehi. Di mana kamu boleh dapatkan permata? Tertanam jauh di perut bumi, tertudung dan dilindungi. Dimana kamu jumpa Mutiara? Terbenam jauh di dalam lautan, tertudung dan dilindungi oleh kulit kerang yang cantik. Di mana kamu cari emas? Terperosok di lapisan bumi tertudung dengan lapisan demi lapisan tanah dan batu. Tubuh kamu adalah suci malah lebih berharga daripada emas mahupun permata. Oleh itu kamu juga perlu bertudung dan melindungi diri kamu.”

hemm...beginilah alkisah wanita yang tidak mahu mengaku kesalahannya...memang bukan mudah untuk berubah menjadi yang lebih baek, namun usaha yang gigih diperlukan bukan alasan semata-mata.jadi renungkanlah tepuk dada tanya iman.

Friday, October 14, 2011

ana sudah bertunang...






Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu.

Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada.

Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.



Aku hanya seorang Insyirah. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini.

Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.

Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam.

Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.



Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tangan ku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.



Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.

"Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"



Aku menjawab tenang..

"Warna putih, bersih..."



"Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."

"Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Jangan berlebihan."

Ibu angguk perlahan.



Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah.

”Malam Pertama...” Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.



Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran.

Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului.



"Kak Insyirah, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"

Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.

"Insya Allah, 'dia' tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah. Itu yang paling utama."



Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan. Aku tersenyum lagi.



"Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!"

Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan 'dia' yang mendekatkan aku dengan Allah.



Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.



"Bila enti menikah?"

Aku tiada jawapan khusus.

"Insya Allah, tiba waktunya nanti enti akan tahu..."

Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila tarikhnya.



"Jemput ana tau!"

Khalilah tersenyum megah.



"Kalau enti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak! "Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahan ku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.


"Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti..."


Rahsia ku adalah rahsia Allah, kerana itu aku tidak mampu memberikan tarikhnya.


Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu...

"Usah berlebihan ya..."

Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.



"Insyirah, jom makan!"

Aku tersenyum lagi... Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.

"Tafaddal, ana puasa."

Sahabiah juga semakin galak mengusik.

"Wah, Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"

"Bukan diet, mahu mengosongkan perut. Maaf, tarikhnya belum ditetapkan lagi."


Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.





............ ......... ......... .........








"innalillahi wainna ilaihi rajiun..."


"Tenangnya.. . Subhanallah. Allahuakbar. "


"Ya Allah, tenangnya... "


"Moga Allah memberkatinya. ..."


Allah, itu suara sahabat-sahabat ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.



Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.

Akhirnya, mereka ketahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah.

Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.

Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah dari sosok 'dia' yang mengkhitbah ku.



Dalam sedar tidak sedar...

Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku...

Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi.

Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.

"Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui..."





Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian...

"Insyirah bertunang dengan siapa, mak cik?"

Ibu tenang menjawab...

"Dengan kematian wahai anakku. Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, Insyirah hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuh."

"Allahuakbar. .."

Terduduk Khalilah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.

"Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama..."

Ibu angguk, tersenyum lembut...

"Ini nak, bukunya."

Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur'.

"Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis... Khalilah tak tahu mak cik."

"Dan sejak dari hari 'khitbah' tersebut, selalu Insyirah mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan.. ."

Khalilah masih kaku. Tiada suara yang terlontar. Matanya basah menatap kalam dari diari Insyirah yang diberikan oleh ibu.



"Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil 'ibrah bukan dari namanya (Ummu Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu."





* Kisah ini bukan kisah ana , ianya kisah KITA (semua yang sedang membaca/tak) *


Mulai hari ini, jangan bersoal tika melihat ana memakai cincin. Kerana, ana sudah bertunang! Bertunang dengan kematian, tidak tahu bila ana akan dinikahkan dan tidak tahu bagaimana rezeki di malam pertama. Tetapi, sekurang-kurangnya apabila sudah dirisik dan bertunang, kita sama-sama akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya walaupun bukan yang terbaik untuk hari pernikahan dengan KEMATIAN.

Wallahua'lam.

Cukuplah kematian itu mengingatkan kita... Cukuplah kita sedar kita akan berpisah dengan segala nikmat dunia. Cukuplah kita sedar bahawa ada hari yang lebih kekal, oleh itu sentiasalah berwaspada. Bimbang menikah tergesa-gesa, tahu-tahu sudah disanding dan diarak seluruh kampung walau hanya dengan sehelai kain putih tak berharga.

Setidak-tidaknya, Insyirah (watak di atas) sudah 'membeli' baju pernikahannya. .. Arh... Untungnya Insyirah.

~ Kullu nafsin za'iqatul maut ~


Dipetik dari : YG Rabithah Fityah Muhammadi (Alumni Maahad Muhammadi).
Penulis : Siti Khairunnisa Azmi